Tentang Trump, Gaza dan Supremasi Kulit Putih di Afrika Selatan
Gaza palestina

Tentang Trump, Gaza dan Supremasi Kulit Putih di Afrika Selatan


Pesantren | Miftahul Huda 2 Ciamis, Cape Town. Pada 02 Mei, perwakilan dari AfriForum terbang ke Amerika Serikat untuk melobi Washington agar mengambil sikap terhadap satu hal yang mereka sebut ‘pencurian rasis’ di Afrika Selatan. AfriForum merupakan organisasi kontroversial di Afsel.

 

AfriForum telah meluncurkan sebuah kampanye internasional. Mereka menyeru agar pemerintah Afsel berhenti membuat perubahan konstitusional yang akan memukimkan kembali ribuan petani kulit hitam tanpa lahan. Tampak kampanye ini dinisiasi oleh pemilik lahan Afsel yang didominasi kulit putih.

Di Washington, pimpinan AfriForum Kallie Kriel dan wakilnya Ernst Roets diterima oleh perwakilan Badan Pembangunan Internasional Amerika (USAID). Tampak pula Senator Republik Ted Cruz dan Penasihat Keamanan Nasional yang kontroversial, John Bolton.

Saat tur mereka berakhir setelah bedai pemberitaan di Afsel, Gaza muncul menjadi sorotan internasional. Israel dan ‘dekengan’ Barat-nya membantai puluhan massa aksi damai untuk menuntut hak kepulangan mereka dari keterusiran. Media Barat pun ‘membeo’ pada Israel dengan menuding bahwa Hamas adalah pihak yang harusnya bertanggung jawab.

Sama seperti Afsel dan negara miskin lainnya di dunia, Palestina terus menghadapi kekuatan sayap kanan yang tumbuh untuk mengaburkan hak-hak mereka. Ini bagian dari kampanye terbesar di dunia dalam menghadapi kolonialisme, supremasi dan privilese kulit putih, serta penulisan ulang sejarah.

Jadi, bukan sebuah kebetulan jika organisasi macam AfriForum menjangkau pemerintahan AS. Karena Washington sangat mendukung Israel dan terlibat dalam penerapan kebijakan rasisnya.

Revisionisme Sejarah di Afsel

Selain melobi pemerintah, AfriForum juga terlibat dalam revisionisme sejarah yang cukup sistematik. Hal ini mereka lakukan melalui pernyataan-pernyataan yang terlontar ke publik. Di masa lalu, organisasi ini menyebut konsekuensi dari apartheid adalah ketidakadilan.

Dalam sebuah wawancara, CEO Kriel menyebut apartheid salah namun bukan suatu kejahatan terhadap kemanusiaan. Ia juga meyakini bahwa antara apartheid dan holokaus tidak dapat dibandingkan.

“Kejahatan pada kemanusiaan itu saat 6 juta Yahudi dimasukkan ke dalam kamar gas dan diberi gas beracun. Menurutku, Anda tidak dapat menyamakannya dengan 700 orang yang dibunuh oleh polisi keamanan apartheid,” katanya.

Observasi liar, cerdik dan tidak simpati ini menunjukkan anti-kebebasan untuk mengubah kebenaran sejarah. Selain juga memproduksi moralitas segar dan mempertahankan hak ekonomi sosial kulit putih.

Revisionisme sejarah tampaknya menjad cara orang semacam Kriel untuk mempertahankan privilese kulit putih. Yang menjadi kekhawatiran adalah jika kemudian narasi mereka mendapat penerimaan di dunia luar. Ini nampak jelas saat Kriel dan organisasinya diterima Washington.

Namun jika dicermati lebih dalam, pernyataan seperti “Apartheid di Afsel bukan holokaus”, “Apartheid bukan kejahatan terhadap kemanusiaan”, “Kolonialisme bukan pembersihan etnis”, tampaknya memiliki tujuan jahat lain.

Hal yang diinginkan dari narasi tersebut adalah untuk memisahkan apartheid di Afsel dengan kejahatan lain atas nama supremasi dan privilese (hak istimewa) kulit putih.

Mereka bertujuan untuk menutupi kebenaran bahwa apartheid di Afsel hanyalah salah satu dari banyak ekspresi dari sistem dominasi berbasis ras di seluruh dunia. Sebuah sistem yang hingga hari ini memberi makan bagi beberapa kulit putih yang terpilih di atas.

Tampaknya, inipula yang membuat Zionis segera mengklaim bahwa yang terjadi di Palestina tidak seperti apartheid di Afsel. Bahkan mereka menyebut perbandingan antara keduanya adalah ‘jahat’ dan ‘fitnah’. Untuk alasan ini pula Zionis mencela penjangkauan antara gerakan Black Lives Matter dengan aktivis Palestina.

Karena alasan itulah mereka menyebut konflik Palestina-Israel sebagai ‘isu agama’, yang perlu ‘dialog antar agama’. Ini pula yang membuat mereka bersikeras bahwa ekstremis agama yang bertanggung jawab atas kekerasan, sehingga ‘teroris Hamas’ – kata mereka – harus bertanggung jawab atas para korban di Gaza.

Tak heran jika beberapa waktu lalu, Menteri Pendidikan Zionis Naftali Bennet, menekankan bahwa para demonstran yang mendekati perbatasan harus diperlakukan sebagai teroris.

Retorika berhasil. Jubir Gedung Putih Raj Shah menyerahkan tanggung jawab para korban di pundak Hamas. ia juga mendeklarasikan bahwa ‘Israel punya hak membela diri’.

Jubir pemerintahan Barat lainnya pun menyebutkan hal yang sama. Mereka juga menyeru semua pihak untuk ‘menahan diri’, seolah-olah ini merupakan konflik antar dua kelompok yang sama kuat. Padahal ini adalah tentang penjajah dan tanah jajahannya.

Israel mendapat dukungan dari pemerintahan Trump dengan cara itu. Maka tidak heran jika AfriForum
berpikir untuk menemukan hal yang sama di Washington.

Trump sampai ke tampuk kepemimpinan di atas ketakutan hilangnya privilese kulit putih. Ia juga tampak tidak malu dengan rasismenya sendiri, menghina kulit berwarna di seluruh dunia, serta berusaha melarang Umat Islam untuk masuk Amerika.

Anehnya, ternyata ada pula orang kulit berwarna yang bergabung dengan proyek itu. Tahun lalu, Menteri Perumahan AS Ben Carson menyebut imigran sebagai budak. Tahun ini, raper pendukung Trump, Kanye West menyebut perbudakan adalah pilihan.

Semua orang dapat melihat persamaan strategi dalam meruntuhkan kejahatan dan memanipulasi bahasa. Secara sistemis, hal ini merongrong kebenaran sejarah dari Afrika Selatan, Palestina hingga Amerika Serikat.

Untuk menghadapi kekuatan, kampanye yang disengaja untuk mengkalibrasi ulang moralitas kolektif dan individu, memodifikasi memori, serta membenarkan kejahatan keji ini, hanya ada satu cara yaitu melawan.


0 Komentar

Tulis Komentar